WahyuR94

Senin, 29 Juni 2020

Cerita Legenda Kebo Kicak dan Surontanu Serta Sejarah Asal Usul Kota Jombang

Pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu secara tidak sengaja membabat bagian dari wilayah Kerajaan Majapahit hingga terbentuk desa-desa yang luas dan hingga saat ini masuk ke dalam administratif wilayah Jombang diyakini sebagai legenda asul usul kota Jombang. Cerita mengenai sejarah Jombang dan pertarungan Kebo Kicak dengan Surontanu juga terbagi menjadi banyak versi, pada artikel ini akan diceritakan tiga versi Kebo Kicak Karang Kejambon yang hadir di tengah masyarakat Jombang sebagai asal usul kota Jombang.
Sumber Gambar: googleusercontent.com
Jombang, Kota besar di Jawa Timur yang penuh dengan peninggalan kebudayaan agama islam memiliki kisah sejarah yang unik sebagai asal usul terbentuknya Kota Jombang. Bagaimana tidak, penamaan Jombang sendiri tercipta dari pertarungan antar dua tokoh sakti mandraguna, yaitu Kebo Kicak dan Surontanu.

Pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu secara tidak sengaja membabat bagian dari wilayah Kerajaan Majapahit hingga terbentuk desa-desa yang luas dan hingga saat ini masuk ke dalam administratif wilayah Jombang. Cerita mengenai sejarah Jombang dan pertarungan Kebo Kicak dengan Surontanu juga terbagi menjadi banyak versi.

Adapula berikut adalah kisah Kebo Kicak dan Surontanu serta asal usul berdirinya Kota Jombang berdasrkan tiga versi yang banyak dipercaya masyarakat Jombang serta hubungannya dengan asal usul Kota Jombang.

Kisah Kebo Kicak dan Surontanu versi Pertama

Alkisah terdapat seorang anak yang sangat jahat, sering membangkan kepada orang tua, hingga dikutuk menjadi kerbau oleh orang tuanya. Sosok tersebut adalah kebo kicak, seorang manusia berkepala kerbau yang dikutuk oleh orang tuanya.

Setelah dikutuk oleh kedua orang tuanya, kebo kicak pergi dari rumah dan berguru kepada seorang kyai yang kaya akan ilmu dan sakti. Kebo kicak mewarisi ilmu-ilmu dari kyai tersebut hingga menjadi sosok yang taat beragama dan terkesan sakti.

Perbedaan Tarian Daerah Jawa dan Sumatra

Perbedaan tarian daaerah Jawa dan Sumtra terletak pada pakaian yang digunakan. Tarian daerah di Pulau Jawa dominan menggunakan aksesoris yang lebih sedikit daripada tarian daerah Pulau Sumatra. Gerak tarian daerah Pulau Jawa didominasi oleh gerakan yang lemah, lembut, dan halus, namun terdapat tarian yang lugas seperti Tari Reog. Sedangkan Tarian daerah Pulau Sumatra didominasi oleh gerakan yang lugas
Sumber Gambar : moondoggiesmusic.com
Pulau Sumatra dan Pulau Jawa merupakan salah satu pulau besar di Indonesia. Kedua pulau ini memiliki tarian daerah yang berbeda-beda, ada yang memiliki perbedaan pada topeng, baju yang dikenakan, hingga alunan musik yang digunakan pada tarian daerahnya. Artikel ini akan membahas perbedaan ciri khas tarian Jawa dan Sumatra.

Tarian Daerah Pulau Jawa

Pulau Jawa terdiri dari tiga daerah yang menggunakan bahasa daerah berbeda-beda, sehingga adat istiadat yang dimiki juga berbeda-beda. Pada pulau Jawa terdapat wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat-Jabodetabek. Wilayah Jawa Barat-Jabodetabek didominasi oleh masyarakat yang mayoritas menggunaan bahasa Sunda, Jawa Tengah didominasi oleh masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa, dan wilayah Jawa Timur didominasi oleh masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa dan Madura.

Minggu, 28 Juni 2020

Perbedaan Kanjeng Ratu Kidul, Nyi Roro Kidul, dan Nyi Blorong

Sumber gambar: Wikimedia

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa tidak asing lagi dengan tiga tokoh ‘halus’ terkenal tersebut, yaitu Kanjeng Ratu Kidul, Nyi Loro Kidul, dan Nyi Blorong. Banyak cerita yang beredar bahwa mereka adalah penunggu laut selatan dan memiliki kekuatan magis hebat serta memiliki kerajaan ghaib.

Bagi sebagian masyarakat terdapat cerita bahwa Kanjeng Ratu Kidul, Nyi Loro Kidul, dan Nyi Blorong merupakan sosok yang sama, namun memiliki penyebutan yang berbeda, tergantung pada daerahnya. Namun hal tersebut tidak lah benar. Ketiga tokoh penghuni pantai selatan tersebut tidak hanya memiliki nama yang berbeda namun juga merupakan tokoh yang berbeda.

Kamis, 05 Maret 2020

Perbedaan Kejawen dan Klenik (Miskonsepsi)

Banyak masyarakat yang mengalami miskonsepsi mengenai definisi Kejawen dan Klenik. Masyarakat pada umumnya mengartikan bahwa Kejawen adalah Klenik, padahal keduanya adalah hal yang berbeda meskipun memiliki kesamaan, yaitu aplikasinya menggunakan unsur-unsur kebatinan.   Kejawen tidak sama dengan Klenik. Kejawen merupakan pemahaman kebatina yang implemenasinya mendekatkan diri kepada tuhan sedangkan Klenik merupakan kebatinan yang tidak melibatkan Tuhan dalam aplikasinya. Untuk lebih jelasnya berikut adalah perbedaan Kejawen dan Klenik.
Banyak masyarakat yang mengalami miskonsepsi mengenai definisi Kejawen dan Klenik. Masyarakat pada umumnya mengartikan bahwa Kejawen adalah Klenik, padahal keduanya adalah hal yang berbeda meskipun memiliki kesamaan, yaitu aplikasinya menggunakan unsur-unsur kebatinan.

Kejawen tidak sama dengan Klenik. Kejawen merupakan pemahaman kebatina yang implemenasinya mendekatkan diri kepada tuhan sedangkan Klenik merupakan kebatinan yang tidak melibatkan Tuhan dalam aplikasinya. Untuk lebih jelasnya berikut adalah perbedaan Kejawen dan Klenik.

Mengenal Kejawen

Sebenarnya cukup berat jika harus membahas Kejawen, dimana materi-materi yang ada dalam Kejawen begitu luas karena Kejawen itu sendiri mencakup pembahasan “bagaimana manusia hidup sesuai perintah Tuhan?”, dengan begitu Kejawen sangat mensakralkan Tuhan sebagai Zat yang paling berkuasa di alam semesta ini.   Kejawen yang berlandaskan konsep “Manunggaling Kawula Gusti” yang artinya “Bersatunya Hamba dan Tuhan” memiliki maksud Manusia sebagai Hamba Tuhan harus menjalankan segala perintah dari Allah SWT. segala aktivitas manusia harus berlandaskan kepada aturan-aturan dari Tuhan.
Sebenarnya cukup berat jika harus membahas Kejawen, dimana materi-materi yang ada dalam Kejawen begitu luas karena Kejawen itu sendiri mencakup pembahasan “bagaimana manusia hidup sesuai perintah Tuhan?”, dengan begitu Kejawen sangat mensakralkan Tuhan sebagai Zat yang paling berkuasa di alam semesta ini.

Kejawen yang berlandaskan konsep “Manunggaling Kawula Gusti” yang artinya “Bersatunya Hamba dan Tuhan” memiliki maksud Manusia sebagai Hamba Tuhan harus menjalankan segala perintah dari Allah SWT. segala aktivitas manusia harus berlandaskan kepada aturan-aturan dari Tuhan.

Manunggaling Kawula Gusti” bukan bermaksud Manusia harus menyamai kodrat dengan Tuhan. Pemikiran tersebut adalah salah besar.

Kejawen sendiri tidak mengatur secara penuh tingkah laku yang wajib dilakukan oleh Manusia, namun melakukan adapasi dari Agama yang dianut oleh seorang Kejawen. Mengingat Kejawen sendiri merupakan suatu pendakatan dalam menganut suatu Agama, Kejawen bukan hanya Islam Kejawen, namun juga ada Hindu Kejawen, Budha Kejawen, bahkan Kristen Kejawen.

Mengingat agama yang pertama kali masuk ke Indonesia, khususnya Pulau Jawa adalah Agama Hindu-Budha, banyak konsep Kejawen yang masih berorientasi kepada ajaran Agama Hindu-Budha. Sehingga tidak heran jika banyak umat Islam yang mengklaim bahwa Kejawen adalah ajaran sesat atau Kafir.

Mengulas kembali konsep “Manunggaling Kawula Gusti” sebagai dasar implementasi dari Kejawen, dijabarkan lagi bahwa “Manusia sejatinya harus bepegang teguh kepada aturan-aturan Tuhan”, dengan begitu tingkah laku Manusia itu sendiri seharusnya tidak boleh membuat Tuhan murka.

Mengingat Agama Islam merupakan ajaran yang berorientasi “Rahmatan Lil Alamain”, yaitu Rahmat Bagi Alam Semesta. Konsep Kejawen yang diaplikasikan oleh orang bergama Islam harus menjadikan dirinya rahmat bagi alam semesta, dimana seorang Kejawen Islam sangat memperhatikan Laku atau tindakan yang “Habluminallah” dan “Habluminannas”.

Lantas, apakah Islam Kejawen ini bisa disebut Mazhab?

Tidak. Dalam urusan beragama seorang Kejawen bisa menganut Mazhab Hanafi, Syafii, Maliki, bahkan Hambali. Kejawen sendiri tidak mengatur manusia dalam menjalankan ibadah.

Terbukti dari karya-karya Kejawen yang hanya berupa Sastra Kawi yang berisi wejangan/nasihat, Tembang berupa lantunan yang berisi nasihat berupa Sastra Macapat, Babad/Sejarah, Suluk berupa siraman rohani yang meng-esa-kan Tuhan, Kidung/Doa-doa yang memohon ridho dari Tuhan, Piwulang yang isinya ajaran adab sederhana seperti wewaler “jangan makan di depan pintu”, dan Primbon yang sejatinya berisi kode alam semesta dan hal apa saja yang harus dilakukan misalnya tanda-tanda gunung berapi akan meletus.

Tidak ada karya Kejawen yang memerintahkan bagaimana seorang Kejawen melaksanakan Syahadat, Sholat, Puasa, dan melaksanakan rukun Islam.

Lantas bagaimana pasal Primbon yang menentukan hari baik dan hari sial soal pernikahan?

Mimin sendiri kurang memahami pasal primbon yang satu ini, mengingat di Pulau Jawa sendiri ada sebuah musim yang namanya musim nikah, dimana pada bulan tertentu banyak sekali orang-orang yang menikah.

Perhitungan primbon terhadap pernikahan memungkinkan berdasarkan waktu masyarakat sekitar sedang berbahagia atau tidak sedang was was menunggu hasil panen, mengingat adat Jawa dalam melakukan pernikahan selalu mengadakan syukuran berupa resepsi.

Primbon yang paling keren menurut Mimin adalah konsep “Pranata Mangsa” yaitu hari untuk menentukan waktu yang tepat untuk bercocok tanam yang secara tidak langsung menggunakan kaidah-kaidah sains.
Mungkin sudah cukup berkenalan dengan Kejawen, selanjutnya mari Kita berkenalan dengan Klenik.

Mengenal Klenik

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Klenik merupakan bentuk penyimpangan dari Kejawen. Klenik pada pengaplikasiannya menggunakan unsur kebatinan, namun bagaimana cara penganut Klenik menjalanannya berbada dengan kaidah Agama Islam.   Misalkan saja dalam “Tapa”, yang pada Kejawen umumnya “Tapa” adalah aktivitas seorang Kejawen untuk bertindak secara hati-hati supaya Tuhan tidak murka dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak diperlukan, apabila dijabarkan secara spesifik “Tapa” dalam Kejawen bisa dikatakan tidak menjaga lisan untuk tidak berbicara sembarangan.   Sedangkan pemahaman “Tapa” dalam Klenik adalah bersemedi di suatu tempat terpencil seperti di bawah pohon yang rindang, di atas batu, dan lain-lain untuk mendapatkan suatu hajat atau ilmu.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Klenik merupakan bentuk penyimpangan dari Kejawen. Klenik pada pengaplikasiannya menggunakan unsur kebatinan, namun bagaimana cara penganut Klenik menjalanannya berbada dengan kaidah Agama Islam.

Misalkan saja dalam “Tapa”, yang pada Kejawen umumnya “Tapa” adalah aktivitas seorang Kejawen untuk bertindak secara hati-hati supaya Tuhan tidak murka dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak diperlukan, apabila dijabarkan secara spesifik “Tapa” dalam Kejawen bisa dikatakan tidak menjaga lisan untuk tidak berbicara sembarangan.

Sedangkan pemahaman “Tapa” dalam Klenik adalah bersemedi di suatu tempat terpencil seperti di bawah pohon yang rindang, di atas batu, dan lain-lain untuk mendapatkan suatu hajat atau ilmu.

Selain itu ada ajian-ajian yang menggunakan bahasa Jawa seperti pelet dan santet merupakan wujud dari Klenik. Bagaimana mungkin Kejawen yang orientasinya mendekatkan diri kepada Tuhan tidak dapat bertindak secara Habluminannas dengan baik.

Perbedaan Kejawen dan Klenik

Berdasarkan pengenalan Kejawen dan Klenik diatas sudah dapat disimpulkan perbedaan dari Kejawen dan Klenik. Kejawen merupakan wujud suku Jawa dalam beragama, sedangka Klenik adalah wujud penyimpangan dari Kejawen.

Miskonsepsi Kejawen

Tunggu dulu, belum selesai! Jika membahas Kejawen Kamu tidak boleh terfokus pada Agama Islam saja, dimana Indonesia terdapat enam (6) Agama yang berbeda jadi seorang Kejawen tidak hany berasal dari Agama Islam.

Menyinggung kembali penjelasan sebelumnya Kejawen juga bisa meruakan Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Budha Kejawen, bahkan Kristen Kejawen jadi meskipun mereka mengaku Kejawen namun tidak melaksanakan ibadah secara Islami jangan seenaknya mengkafir-kafirkan Kejawen.

7 Jenis Ajian Pelet yang Banyak Digunakan dan Cara Menghindarinya

pelet adalah ilmu klenik yang banyak digunakan untuk memikat lawan jenis, terlebih pasangan ras cinta nya bertambah. adapula jenis pelet yang banyak digunakan adalah sebagai berikut.
Ajian pelet sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Ilmu pelet sendiri merupakan metode agar lawan jenis menyukai Kita. ilmu pelet dapat digunakan untuk laki-laki maupun perempuan dan menargetkan lawan jenis supaya menyukai pengguna ilmu pelet dengan bacaan dan pendekatan spiritual. Ilmu pelet juga dapat mengembalikan mantan kekasih.

Ilmu pelet memiliki jenis yang berbeda-beda, bahkan metode nya pula berbeda ada ajian pelet yang melalui foto orang yang kita sukai, melalui baju, melalui makanan, melalui minuman, melalui tatapan bahkan menggunakan sarana darah haid.